Pengikut

Sabtu, 25 April 2020

Cita-cita yang terus berubah

Awal masuk Sekolah dasar di usia 5 Tahun baru pintar membaca dan lincah menulis di kelas 3 masih ingat dong sampai sekarang. Pas naik kelas 4 wali kelasnya tuntut tulisan harus cantik dan rapih. Naik kelas 5 wali kelasnya selalu periksa catatan yang bolong-bolong harus di isi karena katanya tidak boleh ada kertas yang di sia-siakan kalau masih bisa di gunakan harus di pake untuk menulis.  Sampai naik kelas 6 saya sudah punya cita-cita dimana ingin jadi Kepala sekolah. kenapa kepala sekolah?  Karena dengan ilmu yang saya dapatkan yaitu tulisan sudah cantik di tambah dengan  catatan rapih tampa ada bolong sama sekali pikiran anak umur belasan tahun pada saat itu "yes akhirnya saya sudah layak jadi kepala sekolah nih" sesimpel itu.

Lanjut..
Masuk SMP dengan pelajaran yang begitu beruba dimana setiap guru mengajar satu mata pelajaran sesuai titel mereka. Seketika pun cita-cita berubah saat itu ingin jadi Guru agama. Kenapa guru agama?  Karena entah kenapa setiap liat guru agama SMP hari saya merasa tenang dan damai di tambah cara mengajar yang bagus dan mudah di pahami sehingga saya jadi termotifasi untuk jadi guru agama juga seperti beliau.

Lanjut..
Pas SMA dengan pikiran yang lebih terbuka cita-cita semakin mantap dan tidak berubah masih sama yaitu ingin jadi Guru agama kenapa karena lebih di yakinkan lagi dengan melihat bahwa ternyata sosok guru agama memang auranya memang berbeda. Seperti guru agama SMA saya raut wajahnya selalu bersinar sehingga selalu merasa senang jika melihat beliau. Jadi semakin nyakin jika dj tanya cita-citanya jadi apa?  Jawaban saya "pengen jadi Guru agama" seyakin itu.

Lanjut..
Pas di hadapkan pada situasi yang rumit ketika masuk ke Universitas yang saya inginkan untuk menjadi sarjanah S. Pd, i.  Ternyata tuhan memilihkan ke jurusan yang bertolak belakan dengan cita-cita saya. Singkatnya saya menjalani samlai saat ini,  sehingga pada akhirnya cita-cita pun berubah dengan kesadaran yang tidak akan mungkin bisa meraihnya. Endingnya cita-cita berubah menjadi abstrak.

A. W


Tidak ada komentar:

Posting Komentar